Showing posts with label Random. Show all posts
Showing posts with label Random. Show all posts

Monday, February 24, 2014

Urus BPJS Tangerang. Be Smart!

Jadi ya jadi gue mau cerita sedikit aja nih tentang riuhnya birokrasi dan sistem mendapatkan layanan kesehatan dari negara di Tanah Air tercinta, Indonesia ini. Minggu lalu, gue akhirnya memilih untuk mendaftarkan diri secara manual di kantor Badan Penyelenggara Jasa Sosial (BPJS) Kesehatan cabang Tangerang.

Semuanya ini diawali dari adek gue, sebut saja namanya Safira, harus terdaftar sebagai peserta BPJS agar masih dibiayai kesehatan oleh kantor lama bokap. Di kantor lama bokap itu ada istilah “Jaminan Hari Tua”. Nah Safira ini lah yang kalau sakit, masuk rumah sakit, dan berobat mendapat penggantian biaya. Sedangkan gue enggak. Iya, karena gue anak pungut. Enggak deng!

Oke lupakan drama gue tentang anak pungut.

Setelah semalaman berusaha berkali-kali (sampai ganti browser) untuk mendaftar secara online di www.bpjs-kesehatan.go.id dan gagal, karena keluar semacam kode-kode eror, Rabu siang jam 14.00 WIB gue samperin tuh kantor BPJS di Tangerang.
Read More

Sunday, July 7, 2013

Gagal Modus Karena Bolu

Letysia...Letysia... emang dasar Leo, nggak bisa jauh dari soal percintaan. Yang sialannya lagi, ini benih asmara tumbuh sama orang yang kayaknya sih jauuuuuh..ngg...agak jauh lebih tua dari pada gue. Ya sekitar lima atau enam tahun lah gitu.


Dia adalah seseorang yang sejak pertama ketemu di ruang tunggu lantai dua Balai Kota udah bikin penasaran. Pakai baju kaos ijo, celana kargo. Kaos ijo yang lengan pendek, panjang lengannya pas sedikit di bawah bahu.
Read More

Thursday, April 4, 2013

Thursday, February 28, 2013

I Have No Idea How To Handle You

Dikondisi gue yang sedang makin sibuk dengan liputan-liputan asik tapi korlip utamanya kampret dan terputusnya jaringan internet di rumah hingga menyebabkan gue tidak lagi dapat mengakses dunia maya dari laptop. Sekalinya online lagi, gue mendapatkan sebuah kenyataan pahit.
 .
..
...
....
I Have No Idea How To Handle You...
Read More

Wednesday, December 26, 2012

There is A Name!

Alkisah ada sebuah nama...

Sekarang tau kan kenapa gue nggak mau
rekening baru? Karena yang ini
ada fotonya!!!
*&%%@!!... itu pembuka posting udah nggak bener banget. Yaudah gue hanya mau cerita gimana pengalaman gue membuka rekening baru di BCA. Ini jadi buka rekening baru karena tuntutan kantor yang mengharuskan gue mengesampingkan rekening lama dan punya rekening atas nama sendiri. Padahal gue sayang banget sama rekening gue yang sekarang (meski bukan atas nama gue, hmm...atas nama gue juga sih, tapi QQ ). Menurut kantor gue harus punya rekening sendiri. Maka dimulailah gue ijin di hari Senin minggu lalu untuk bikin rekening baru, yihaaa!!! dafuq.
*Gile, kece banget kan foto gue itu? Kalau kata mbak BCAnya itu namanya tahapan ekspresi. Dulu sih gue buka rekening dengan awal 50 ribu rupiah. Bisa ada fotonya karena pas buka rekening itu ada photoboxnya langsung. Jadi kecetak langsung gitu di ATMnya...canggih kan?fufufu.

Dalam proses pembukaan rekening ini, gue sempet ditolak sebagai calon nasabah. Sedih lho, suer. Jadi karena gue hanya dapet libur sehari dalam seminggu, dan itu hanya di antara Sabtu atau Minggu, maka mau nggak mau gue harus manfaatkan Weekend Banking-nya BCA. Yang terdekat dari rumah gue ya SMS. Datenglah gue ke SMS, ngantri, diterima dengan baik, mbak Customer Service-nya pinjem KTP gue, and DANG! Di sini drama di mulai...gue ditolak jadi nasabah. Jadi nasabah doang coy!! Alasannya karena  alamat rumah gue di KTP itu di BSD dan ada BCA yang terdekat dari rumah gue, jadi bisa dilayaninya ya di BCA deket rumah itu. Kira-kira mbaknya bilang gini, "Sekarang kalau buka rekening kami sistemnya perdomisi. Ini juga untuk memudahkan nasabah" pret dung pretlah. Gue udah rela ke SMS eh kagak bisa buka. Yaudah...langkah lenggang gue keluar BCA, hati berkecamuk, pengen buang-buang duit, yaudah gue jajan hot tea tarik di kopitiam. Cerita hari itu berakhir, tapi gue masih punya satu hutang buka tabungan biar bisa gajian. 

Senin lalu. Gue akhirnya ke BCA deket rumah di sektor 1.1 yang  padahal sih nggak deket-deket amat juga *yawn* Gue ke CS, bilang mau buka rekening. Prosedurnya sama, dimintain KTP dan SIM. Gue kasih dong dan untungnya kali ini tidak ditolak lagi. Awalnya dicek dulu tuh di database mereka, karena gue ngakunya udah pernah punya rekening BCA. Kelar di cek, mbak CSnya isi data berdasarkan KTP gue. Ujung-ujungnya gue disuruh tanda tangan pake materai. Lalu gue serahkan uang Rp507.000; 500ribu untuk nominal awal buka tabungan (ntar udah kelar buka juga boleh diambil kok duitnya, kagak ditelen sama BCA, hehehe), nah 7ribunya itu buat materai bro. 
Gue ditawari dua hal, pertama limit pengambilan uang tiap hari yang kedua tentang kartu ATM (damn, gue beneran ganti kartu ATM kan!!). Gue milih yang limit 5juta sehari, dengan anggapan biaya abonemennya lebih murah daripada limit 7juta. Udah tuh kan kelar. Giliran soal kartu, gue galau. Ada dua tipe kartu paspor BCA, yang pake nama dan polosan. Gue pilih yang pake nama, tapiii...baru jadi seminggu lagi. Yasalaam lama amat ya nyetak nama doang,ck. Tapi akhirnya udah jadi dong kartu gue yang pake namaaaa...xixixi.


There's a name, my name! :D
Read More

Saturday, December 15, 2012

Re-design?

Jadiiii...ini post adalah lanjutan dari Random Gilingan yang semalem. Iseng ngajak temen makan steak, eh gayung bersambut ternyata pada mau dan gue dapet informasi-informasi baru tentang Holycow. Soal bendera, menu, dan harga.
Read More

Random Giling

Sungguh terlalu memang ke-random-an perut gue...

Seharian ini pola makan gue berantakan. Semuanya karena kasur gue yang posesif, nggak mau gue tinggal tuk kerja *haha cari kambing hitam* sebenernya gue yang agak susah bangun dan masih demen ngolet-ngolet sampe setengah jam. Walhasil, gue tadi nggak kekejar naik kereta Commuter Line AC yang jam 6.15 pagi. Dari rumah gue udah ancang-ancang tuh...Jam enam pagi baru kelar mandi, ya bakalan nggak sempet sarapan, so gue putuskan untuk bawa bekal.
Jalan dari rumah jam 6.08, gue sih udah..*bentar gue BAB dulu. ada aja lagi pengen BAB jam segindang*

Read More

Wednesday, July 25, 2012

Pass

Hello #mynameis Sware. My first name is Mahasi and my last name is Visian. So my status is mahasiswa revisian! :)


Akhirnya lewat juga masa diuji, disidang, ditanya-tanya walaupun lebih banyak masukan sarannya dari pada ketiga hal itu. Selama sidang gue nggak sama sekali merasa deg-degan. Mungkin karena sudah tahu sejak awal siapa pembimbing gue, jadi nggak mungkin dia jadi penguji. Lebih bersyukur lagi ketika tahu siapa pengujinya. Atau nggak deg-degannya gue ini karena udah terlalu muak dengan skripsi, teori, uji-uji kuantitatif. Makin pede lagi karena "pasti lulus" karena...itu deh. Udah nggak usah mikir yang aneh-aneh gue nyogok penguji atau gue mengancam akan loncat dari Monas, pokoknya gue santai banget kemarin ujian. Bahkan lebih santai dari pada gue menghadapi UAS tiap semester. Damai... 

Read More

Saturday, May 26, 2012

Unity In Diversity

Kalau judul di atas di bahasa Indonesia-kan menjadi apaan hayo? Bhinneka Tunggal Ika, brooo...hampir aja gue typo karena lupa berapa jumlah "N" di kata pertama. Mungkin terakhir gue lihat semboyan ini pas SMA, di dinding atas tiap kelas pasti dipasang dengan 2 foto, presiden dan wakilnya. Sekarang pas kuliah, boro-boro inget, lihat aja enggak di kampus. Lalu gue penasaran, berapa presentase jumlah mahasiswa yang inget dengan semboyan ini ya? Ah tengsin juga kalau ternyata yang nggak inget hanya gue doang. Ok, skip.
Read More

Wednesday, May 23, 2012

How random is it?

Gue nggak tau seberapa randomnya hidup gue. Gue nggak punya takarannya. Semua terjadi mungkin sespontansitas itu. Lalu semua menjadi blur, sangat blur, suram sekalian.

Hari ini seperti kemarin, gue online lagi di Facebook. Liat sepintas siapa yang ada di news feed. Munculnya random, kemarin ada rentetan orang yang baru ganti foto, hari ini ada upload-an foto buah salak yang ada pesawat nabrak *dikira lucu kali, menurut gue sih enggak*, ada juga postingan status dosen yang bilang tentang isi majalah Tempo hari ini - terkait dengan berita Sukhoi juga. Segitu randomnya apa yang gue lihat di Facebook gue? 
Read More

Sunday, May 20, 2012

Thursday, March 29, 2012

3 Reasons Why This Seasons Must End Soon!

hujan kecil dan skripsi, penyebab utama ini ditulis.

Mau cepat-cepat kelar skripsinyaaaaa...!!!!! Setan lama banget lah bisa kelar. Faktor-faktor dari post yang sebelumnya disebabkan juga oleh gue yang pemalas. Emang gue pemalas!! Mandi aja suka mager. Males gerak=mager, males mandi=maman. Jadi sehari-hari gue kalau bangun pagi adalah abis makan gue 'maman', males mandi. Lalu tidur lagi, kebangun biasanya sore jam 4 dengan penuh penyesalan kenapa gue bisa tidur selama itu. Jangan sampe kayak Beethoven yang bikin Unfinished Symphony dan gue jadi jelmaan dia yang bikin Unfinished Thesis (-_-").

Read More

Friday, September 2, 2011

Salary On Demand. Jadi Berapa Gaji Wartawan?

Udah mulai buka mata nih ke depannya mau kerja apaan. Kerja yang sesuai dengan passion, tapi juga pengen yang gajinya besar sar sar. Wartawan? Setelah browsing baru ngeh kalau jadi wartawan itu gajinya kecil.

Berapa gaji wartawan sekarang


Let say, gue nantinya akan meneruskan di Trans Corp. Dari awal diwanti-wanti kalau kerja di Trans itu gajinya kecil. Tapi pengalaman yang didapat untuk sebuah pekerjaan di TV itu yang besar. Kalau cari pengalaman bekerja yang sesungguhnya di TV itu ya di Trans, gitu katanya. Tapi jangan harap gaji berlebih.

Keyword pertama: Gaji Trans. Yang keluar hasilnya macem-macem. Tapi mostly hasil obrolan forum. Take home pay 1,25 juta/bulan untuk reporter fresh graduate S1 (update-an tahun 2008), sekarang mungkin agak naik ya tapi mungkin nggak sampe 2 juta rupiah juga. Mungkin di atasnya, tapi pasti mepet sama UMR Jakarta. Ngebayangin sekarang hidup dengan 1,25 juta di Mampang, Jakarta, bisa hidup nggak ya? Uang transport PP berapa, uang makan dapet sih katanya 10 ribu perhari masuk, uang ngedate malming sama pacar berapa, dana mau clubbing tiap malem Jumat berapa, kalau pengen ganti hp gimana, kalau mau beli Galaxy Tab harus nyicil yang berapa bulan, kalau mau nyicil mobil harus kasih DP berapa biar bulanannya nggak gede, kalau mau nyicil rumah ambil yang tipe berapa, kalau lebaran kasih salam tempel ke keponakan berapa, berapa, berapa, berapa? Nutup nggak tuh kira-kira ya?

Tapi dari hasil browsing juga, katanya di Trans itu bonusnya yang gede. Bisa dapet 14 kali gaji dalam setahun. Tapi gue belum tahu nih, ada jaminan kesehatannya nggak tuh selama 5 tahun, karena sumpah ya kerja di TV itu berat boi!

Katanya sih itu gaji masa percobaan. Sesotoynya gue, percobaan di Trans itu 3 bulan. Kalau performa nggak oke, lo didepak bye bye, kalau bagus dilanjutin. Nah yang bikin was-was lagi, di Trans harus terikat kontrak 5 tahun. Lo harus 5 tahun kerja, dengan menggadaikan ijazah lulus kuliah ke Trans. So, selama 5 tahun ijazah lo dipegang sama HRDnya dan 5 tahun lo muter-muter aja di gedung Trans, nggak bisa ke mana-mana. Ada caranya biar nggak digadaiin 5 tahun ijazahnya, tapi gue belum belajar gimana caranya.

Hal yang masih agak bikin bimbang itu jam kerjanya. Oke, sekarang gue emang baru ngerasain jam kerjanya orang produksi-non news. Dari jam 12 siang sampai jam 12 malam, itu normalnya orang produksi. Bisa lebih pagi kalau ada rapat sama atasan. Emang jam rapatnya suka-suka deh, rasanya kayak otak bisa kerja pas dini hari. Nah kalau pulang jam segitu kan gimana transportnya ya. Kepikiran untuk nyicil mobil, tapi mikir lagi gimana nyicil kalau gajinya kecil. Kontrak atau ngekost deket situ? Mending pulang ke rumah, makan masih bisa ikutan nanggung orang tua.

Tapi sejauh gue magang sebulan ini, suasana kerjanya oke-oke aja tuh. Orang-orangnya masih muda kali ya, masih setipe. Orang yang tuaan juga masih berjiwa muda. Seragam hitam? Pasti kebanggaan lah kalau pakai yang ada logo Trans Corp. nya. Kalau jalan pasti dilirik, uhuy! Dan kerjaannya enjoy-enjoy aja. Kerja lapangan sama kerja di balik mejanya setara. Jadi nggak bosen, apalagi kalau dapet program yang jalan-jalan mulu.  Kalau inget bagian ininya, I think I can deal with the salary.


Mulai mikirin umur. Katakanlah gue wisudaan itu umur 22, tahun 2012. Eh 2012 ya? belum kerja udah kiamat duluan hahaha.

Anggeplah I'm the lucky one. Langsung keterima kerja di Trans. Terikat kontrak 5 tahun, itu artinya tidak bisa pindah kerja kalau ditawarin kerja di perusahaan yang salarynya lebih baik, atau lokasinya lebih dekat rumah, atau 'sesuatu' yang lebih 'Alhamdulillah yah'. Berarti gue baru bisa ambil kesempatan lain itu umur 27an. 27 man!!! Gila ketuaan abis nggak sih buat kuliah S2 di luar negeri?? Walaupun S2 hanya 2 tahun, tetep aja umur 29 udah berasa tua buat backpackeran. Eh padahal juga nih, S2 bisa diambil kalau udah pernah kerja di media selama 2 tahun. Lah ini gue bakalan kerja 5 tahun! 3 tahunnya terbuang sia-sia, padahal bisa kuliah lagi buat naikin self-value.

Dulu gue pernah punya target, umur 30 gue udah hidup enak. Masuk kantor suka-suka gue, punya mobil dua buah di garasi, tinggal di penthouse apartment, tidur dengan orang yang berbeda tiap malam. Baru sadar kalau kuliah jurnalistik bisa digaji kecil pas kerja, bikin gue mikir gimana caranya mewujudkan target gue ini.

Keyword kedua: Gaji Wartawan TV. Ini ada link agak formal tentang gaji pekerja media di Indonesia. Ada angka-angka kisaran gaji tuh di bawah. Coba bisa dibandingin ya. Ada yang lumayan, ada yang bikin nangis. Pekerja di daerah lebih 'ngesakne' kalau kata orang Jawa, yaiyalah cuma digaji 200 ribu. Bisa kayanya harus sambil jadi bandar narkoba kali tuh hehehe. Kok yang paling agak mendingan gajinya malah media cetak ya? Koran bisnis pula. Oh mungkin nggak sih pengiklannya perusahaan-perusahaan gede, jadi mau bayar iklan gede?sotoy gue. skip.

Tapi gaji-gaji segitu emang hampir nggak bisa buat saving kalau kerjanya di Jakarta. Ditambah dengan resiko besar yang dihadapi wartawan. Bukan maksud bilang kerjaan lain tidak beresiko besar, hanya kerjaan lain bisa punya resiko nggak ketembak di daerah perang tapi gajinya lebih besar. 

Duit...duit. Bukan yang utama, tapi nggak mungkin jadi nomer terakhir dipikiran. Jadi anak pertama pasti bakalan jadi tulang punggung keluarga, itu otomatis. Apalagi kalau orang tua udah pensiun, mana tega tiap hari minta makan di rumah.

Suka dukanya pasti ada. Mungkin sukanya bisa ketemu banyak orang baru, bisa kepoin orang, bisa jalan-jalan gratis dibayarin kantor. Dukanya waktu itu berharga. Tiap hari yang dijalani pasti ada 'resiko pilihan'nya. Hari yang dijalani belum tentu bisa menyelesaikan semua kerjaan. Kadang pengen banget jadi kelinci Energizer yang tahan lama, nggak gampang ngantuk dan bisa kerja terus. Tiap keputusan pasti ada celah untuk jadi penyesalan. Dan setiap kerjaan pasti ada prosesnya. Di mulai dari masa percobaan dengan gaji sekian, sampai pada gaji sekian dengan dedikasi supersekian pada jabatan.
Read More

Monday, November 22, 2010

I Die.

I die. I die. I die. I would die. And you just smile.
Tentang kematian. Cara menuju kematian. Waktu kematian. Gue punya pilihan sendiri tentang itu.

Tentang kematian. Hidup setelah mati di alam berbeda.
Setelah sekian tahun di dunia, bukan lantas jadi berbentuk luluh lantak saat kembali pada Sang Pencipta.
Mungkin jadi setan, hantu kayak Casper, roh/ruh, atau mungkin ya sama seperti di dunia sekarang. Gue nggak tau pasti jadi kayak apa, karena gue belum berniat pada tafsiran Al-Quran.
Dipikiran gue, nanti kalo mati enakkan jadi hantu. Bisa menikmati lagi yang di dunia. Keluar dari liang kubur jalan-jalan keliling dunia, kayak Gayus keluar dari sel penjaranya. Biar nggak kesepian juga. Menikmati tempat-tempat sebagai hantu backpacker.

Cara menuju kematian. Nggak usah yang repot-repot lah. Dan juga nggak mau yang cheesy, kayak sakit. Gue nggak mau mati dengan cara ketabrak mobil atau kecelakaan, ntar wajahnya jadi rusak, jadi hantu yang menyeramkan. Ogah amat. Jadi maunya kayak apa ya? Mati dalam tidur yang tidak gue sadari kalo gue menuju proses mati.
Kadang gue takut. Takut mati saat tidur. Takut pas melek ternyata ngeliat diri gue masih pulas di tempat tidur. Gue meminimalisir tidur malam hari, biar rentang tidur sampe meleknya nggak jauh-jauh amat.
Abis mati? Gue maunya dikremasi. Bukan berarti selingkuh dari ajaran Islam. Tapi kayaknya kremasi lebih cepet bersatu dengan tanah dengan abunya dan udara dengan asapnya. Dan abunya tinggal buang di laut deh. Nggak pake nyusahin keluarga buat beli-beli tanah di Diego Hills yang wassalam harganya.

Waktu kematian. Terserah yang memberi hidup deh. Tapi maunya mati muda, karena katanya kalo mati muda diselamatkan Allah dari kebathilan yang ada di Bumi. Baiknya sih setelah gue belajar agama dan menikmati dunia. Semua keinginan tercapai, matipun damai.
Pernah orang bilang, "Emang cuma sampai situ janji hidupnya dengan Tuhan" lha tapi kok gue nggak inget kapan tanda tangan kontrak hidup dengan Allah..?

Bicara tentang kematian bukan maksudnya takabur. Ya lagi pengen ngomong aja.
Read More

Friday, November 19, 2010

Usul Mr. Selalu Bimbang Ya

Presiden memberikan usul ngasih hape ke ke para TKW. Tujuannya, biar TKW yang diperlakukan tidak baik oleh majikannya bisa langsung melapor ke Konsulat Jendral setempat, untuk kemudian ditindaklanjuti.

Menurut gue agak oon juga nih SBY. Ngasih solusi tapi kok ya gantung, nanggung.
  1. Dia lupa kali, kalo buat telponan harus pake pulsa. Lah ini bagaimana dah, TKW sering kali nggak digaji ama majikannya ampe berbulan-bulan, mau beli pulsa pake apa coba?
  2. Itu TKW yang kedengeran gaungnya pada disiksa majikannya aja kadang nggak dikasih makan, gimana nge-charge hapenya coba. Tempat tidur dan makan aja dianggep bukan hak mereka.
  3. Waktu untuk telponnya gimana ya? Terang-terangan atau sembunyi-sembunyi?
  4. Konsulat Jendral beneran udah siap dan akan sigap menangani ini nantinya?
  5. Eh gimana ya keadaan Konsulat Jendral yang ada di negara-negara mayoritas TKW kita?
  6. Mostly dari mereka dari daerah pelosok Indonesia. Mungkin butuh merangkai kata untuk bicara..eh kursus pake hape!
Mending ditarikkin aja dah tuh para TKW. Suruh balik ke sini. Kerja di sini.
Kerja apa ya tapi?
Jadi kuli bikin jembatan penghubung pulau Jawa dengan Papua keren tuh kayaknya! Hehe asal, gue juga gak tau enaknya pada disuruh ngapain :P
Read More

Saturday, October 16, 2010

Jazzin' Me Up!

Margo Friday Night was awesome!

Baru pertama kali gue ke Margo, itu juga karena sodara gue manggung di MFN. Pertama liat Margo City, terpukau dengan megahnya si jaring-jaring piramida di atap luar bangunannnya. Dalemnya? Gak tau kayak apa. Wong gue gak sempet main ke dalamnya. Yang jelas panggung MFN cuma sepetak. Ya gak 2x1m kayak kuburan, tapi bisa dikira-kira hanya setengah dari ukuran panggung Jajan Jazz.
Band sepupu gue, Gonin, band jazz berawak lima orang pemusik. 2 orang sepupu gue di Sax dan Keyboard. Belajar Jazz udah dari kapan tau lamanya, udah juga manggung sana-sini. Sampe tadi akhirnya gue mendengar mereka ditawari manggung di Java Jazz tahun depan. Great!
5 lagu dari jaman jebot dibawakan dengan mulus (sok ngerti mulus atau nggaknya musik). Gue sok asik aja, sok ngerti iramanya.Haha.
Ada juga SKETSA, akustikan yang digawangi 2 perjaka (eh?) tampan. Terkesima dengan permainan dan Jazz ringan ala Gerald S. dan Dimas W., langsunglah mendekati meja penjualan album mereka, Childhood's Dream (berisi 10 tracks), lumayan bisa dapet tanda tangan lengkap mereka yang main malam ini. (Gelard super amat sangat ramah. Bersalaman dengannya menjadi pembuka pintu gue minta tanda tangan. Nice boy).

Jazz bukan musik orang tua. Jazz bukan juga paduan not-not musik yang rumit. Gonin yang keempat anggotanya masih sekolah dan Sketsa si duo alumnus PL (yang boleh dibilang tergolong muda juga) membuktikan Jazz itu bisa dibawa riang, jadi musik pengantar goyangan ringan. Jazz belum mati. Kalau adanya musik selain jazz di Java Jazz, itu karena F. Gontha pengen variasi aja. Namanya juga bisnis, tiket JJF nggak dijual untuk pencinta Jazz aja!

Read More

Sunday, September 26, 2010

PLUS MINUS

Gue sedang memikirkan keuntungan dan kekurangan dari promo Jakarta-Singapore-Jakarta nya Mandala di Februari 2011. Emang sialan nih sih Mandala. Bikin promo murah bener, bikin ngiler.

Keuntungan:
  1. Bisa jalan-jalan lagi ke Sing, mengunjungi tempat-tempat yang belum terealisasi kemaren.
  2. Momentnya pas! Ya menikmati liburan semester lah. Bentar lagi magang, makin sibuk, makin jarang bisa liburan, makin strees pasti.
  3. Jadi punya alasan biar nggak Umroh.
  4. Pergi sama temen-temen yang udah gue kenal. Udah kebayang bakal kayak apa serunya.
  5. Menebus rindu yang teramat dalam dengan negara itu, MRT, Mr.Bean. Ah semuanya itu deh!
  6. Universal lagi? Bukan tujuan utama sih.
  7. Jalan sama adek gue. Ya sekali-sekali mikirin jalan yang "worth it" sama keluargalah, masa mikirin diri sendiri mulu. Terlebih mama sepertinya tidak bisa diharapkan untuk jalan bareng bertiga.

Kekurangan
  1. Keluar duit lagi untuk tempat yang pernah gue datangi. Maunya sih ke Thailand atau Vietnam.
  2. Harga tiket yg gue keluarkan untuk kepergian kali ini lebih mahal 100ribu dari pada yang kemaren. Harusnya lebih murah. Bukan progress dong namanya kalo menjadi lebih mahal..
  3. Waktu untuk mengumpulkan uang hanya 4 s.d. 5 bulan, nggak kepikiran sama sekali dapet dari mananya. Nadah ke nyokap? Kasian juga, adek gue mau hidup pake apa di sana??
  4. Gak ada Glo.
  5. Harga tiket dan hari terbang yang telah di-booking temen-temen beda sama tiket yang bakal gue booking.
  6. Gue masih ada tanggungan ikut kelas yg failed di semester 4, Komunikasi Internasional. Bayar lagi, nggak mungkin minta nyokap untuk kesalahan yang gue perbuat.
  7. Takutnya bukan jadi perjalanan ala backpacker.
  8. Udah pada gue buang website-website useful ttg Singapore. Mau cari lagi? Ah elah PR amat yaaaaa....
  9. Bisa-bisa jadi berangkat Umroh gue!! ouch.
  10. Kemungkinan nggak bisa nonton film, makan enak, dan bayar kebutuhan-kebutuhan penting lainnya.
Tuh kan banyakan minusnya. Nggak usah pergi aja apa? Hmm gini deh, kalo tiketnya dapet harga bagus sampe gue bisa ngumpulin sesuai dengan tiket, gue berangkat. Tapi kalo nggak, ya wassalam.
Bukan gue perhitungan, tapi semua emang harus dihitung pas, mateng, tepat, efektif, efisien. Karena semua hal saling terkait. Mau nggak mau harus dipikirin. Fak.

Read More

Monday, August 16, 2010

Jangan dibaca kalo bosen!

Gue akan menulis cerita, curhat lagi. Cinta-cintaan lagi. Kalo lo bosen, tolong di skip aja. Trims.

Kali ini tentang Jagoan. Siapa? Kan udah gue bilang, JAGOAN. Manusia yang hampir sempurna, punya mata hidung mulut untuk berbicara. Punya hati untuk membedakan mana yang benar dan tidak. Punya logika untuk jatuh cinta.
Namanya? Lagi-lagi gue enggan untuk sebut nama. Gak etis *ah alesan, padahal biar gak ke detect aja siapa orangnya*.
Kisah gue suka, hmm more than that. Cinta gue bersemi ke Jagoan awal kelas 1 SMA. Ya di Moonzher itu. Tapi pertama kali liat justru bukan di sekolah, bukan ketika gue pake rok. Tempat bimbel Visi. Itu lho yang letaknya deket Dunkin Donat BSD. Ya disitu lah pokoknya.
Intinya kemudian gue jatuh cinta selama 5 bulan, rentang waktu September '05-Februari '06. Selama 5 bulan itu apa yang gue lakukan? Menulis. Menulis di binder semua yang terjadi antara gue dan Jagoan. Dengan spidol warna-warni yang berdasarkan suasana hati (kalo seneng warnanya biru muda, kalo sedih biru tua, kalo marah warnanya merah). Tulis di bindernya seminggu sekali, setiap Senin. Karena cuma setiap Senin kemungkinan gue ketemu Jagoan lebih besar, kan upacara bendera. Semua angkatan pasti kumpul di lapangan. Kalo udah baris, giliran gue deh curi pandang ke kelas XI Ipa 1. Hehehe... Dan kebetulan waktu pelajaran OR kita selalu barengan. Makin seringlah gue CP-CP. :D
Isi binder selama 5 bulan

Liat parkiran itu wajib hukumnya buat gue. Cuma untuk pastiin kalo Jagoan masuk, karena kalo Jagoan masuk pasti ada Honda Cielo silver yang terparkir manis di parkiran mobil. Kadang ya panggil-panggil supirnya, Mang Odie, untuk tanya Jagoan hari ini langsung pulang atau ada les, atau ya sekedar basa-basi ngobrol sama Mang Odie.
Makin hari makin tau tentang Jagoan, tentang rumahnya di deket rumah gue yang emang tidak pernah dia tinggali bersama keluarganya, tentang berapa kali dia pernah pacaran, merk ikat pinggang yang dia pake ke sekolah, merk tasnya, sepatu dia yang hampir selalu Airwalk, tentang olahraganya, tentang suku bangsanya, tentang pekerjaan orang tuanya, bahkan gue berusaha mengenalkan diri ke adiknya. Cari rumahnya juga udah puluhan kali gue coba, tapi nggak berhasil. Guenya juga gengsi tanya rumahnya dia dimana, kalo ketauan suka kan berabe.
Tapi pada akhirnya toh tanggal 17 Februari 2006 kita ketemu. Gue kasih binder yang selama ini udah gue tulis dengan kata-kata cinta yang membumbung tinggi ke angkasa sampe kata-kata sumpah serapah kalo dia nggak bales sms gue. Hahaha...tolol ya. Tapi ya itu semua yang selama 5 bulan bisa gue perhatiin dari dia, usaha untuk tau dia lebih dalam. Kita ketemu di EF, jam 7an setelah dia selesai les. Keringet udah ngucur aja di leher gue. Perasaan antara seneng mau mengutarakan, takut kalo dia maki-maki gue, sedih karena emang ini harus sudah diselesaikan. Kenapa diselesaikan? Karena gue capek. Iya, gue capek waktu itu. Dan kenal dia tanpa ada perasaan cinta mungkin memberikan gue keleluasaan. Tidak terus cerita kebanyak orang dengan perasaan takut siapa yang gue cinta. Akhirnya kita jadi teman. Kita jadi lebih sering sapa-sapaan, tanpa ada rasa takut menimbulkan prasangka apapun.
Beberapa waktu kemudian sahabatnya, yang juga menjadi sahabat gue setelah pengejaran Jagoan, bilang kalau Jagoan mungkin suka sama gue kalo aja gue itu *****. Gue cuma bisa tarik nafas dalem-dalem, seneng sih, tapi mau gimana lagi. Oh well... Jagoan mungkin (bukan) cinta pertama gue. Tapi sejauh ini dia memang membekas di hati.

Gue berdoa, semoga kita bisa ketemu di suatu tempat, di suatu saat nanti. Entah kapan. Semoga segera. Tanpa sengaja. Kita bisa duduk bareng, mengingat yang terjadi 4 tahun lalu, ngobrol tentang lo yang sekarang, dan impian lo ke depan. Gue tidak keberatan kalo sekarang lo pemuja Malboro Black Menthol, atau mungkin kita bisa share?


Sepenggal cerita tentang Taurus pertama yang dewasa. Love, me.
Read More

Wednesday, August 11, 2010

Pindah Agama

Untuk yang ketiga kalinya gue berfikir untuk pindah agama, ke Katholik.

Alasan pertama saya terpesona dengan Vatican daripada Mekkah. My pleasure to go to Vatican, then Umroh. Kedua, biar gampang cari makan kalo lagi backpackeran. Resto dengan cap halal itu susah lho, apalagi harganya yang bisa melambung jauh dari makanan non-halal di kota itu. Ketiga, daripada masuk neraka karena tidak menjalankan salat 5 waktu dengan benar, mending agama lain yang mungkin bisa dengan luas hati gue lakukan ibadah wajibnya.

Astagfirullah. Gue bener-bener butuh lapisan iman yang kuat!
Read More