Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Monday, August 5, 2024

Karya 3 Game Developer Ini Gue Suka Banget!

Game adalah pelarian gue dari kepenatan. Selain nongkrong sama temen untuk ngopi. Kalo ngopi masih ada effort-nya untuk keluarin uang dan pergi ke coffee shop, nah main game menurut gue effortless. Sangat effortless, hehehe. Main dari satu game ke game yang lain, lama-lama gue menyimpulkan karta 3 game developer berikut ini adalah yang paling gue suka. Nama-nama ini menurut gue punya karakternya masing-masing. 

Tapi balik ke dasarnya dulu deh. Jenis game seperti apa yang gue suka? Ternyata gue suka game yang slow dan no pressure. Emang kayaknya gue anaknya nggak kompetitif kali ya, hahaha! Seperti di atas gue sebutin, game adalah pelarian dari penat. Jadiiii... menurut gue seharusnya game membawa kesenangan, menenangkan, dan worth my time di akhir permainan. Sejauh ini genre game yang gue suka ternyata management, simulator, atau strategy

Review Game Developer

Jadi sejenis PUBG atau Mobile Legend bukanlah jenis game yang gue banget. Dulu sempet main sih PUBG, tapi pada akhirnya gue menyerah karena beberapa alasan. Satu, karena pressure-nya ada banget. Harus jadi team player yang bagus (atau gue jadi terpacu validasi gengsi jago main). Seringnya ketembak duluan pas nge-loot, hahaha ... Kedua, keterbatasan device & lain-lainnya. HP cepet panas, internet pas main kadang nggak performed, dan nggak bisa pause game di tengah permainan karena kebelet atau kayak nyokap tiba-tiba nyuruh gue ngelakuin sesuatu.

Lalu kenapa bukan Mobile Legend? Karena gue nggak ngerti. Asli. Terlalu banyak hero, skin yang harus di-upgrade apa lah itu, dan lain-lain. Upgrade ini itu bisa menjadi awal gue FOMO. Sungguh game yang tidak menenangkan sama sekali untuk gue. Gue kagum sama players yang bisa catch up dengan updates di Mobile Legend.

Hingga akhirnya setelah mencoba game di HP dan desktop, karya 3 developer game ini adalah idola gue. Berawal dari satu game, lalu coba gamenya yang lain, yang lain, dan yang lain. 

1. Game Developer "The Sims": Maxis

Game mereka masih gue mainin banget. SE-CIN-TA itu sama The Sims. Pertama main The Sims 1 itu sekitar SMP. Masih pake copy crack apalah itu. Gue nggak pernah bisa copy crack, selalu minta bantuan sepupu gue, haha kasian dia dimintain tolong terus 🙏. Padahal banyak kan expansion pack-nya The Sims 1 itu. Hot Date, Vacation, Unleashed kayaknya yang pernah gue mainin. 

The Sims 1 wikipedia

Sampai 2024 ini pun gue masih main The Sims. Hail The Sims!!! Terbekatilah mereka yang berada di balik Maxis. Konsistensi memproduksi game yang patut diacungi jempol. Selalu ada expansion packs yang keren. Kayak yang terakhir kan malah ngeluarin versi bisa bikin kostan di The Sims 4. Cool!

Gue main The Sims 2 tahun lalu, tapi ternyata berat sekali. Loading game-nya lamaaaaa... Juga pakai kapasitas laptop gue sampai 13 Gb untuk penyimpanannya. Jadi gue drop. Tapi gue drop juga karena gue upgrade ke The Sims 3, heheheh... The Sims 3 lebih ringan. Barangnya lebih bagus-bagus (yaiyalah bagus karena render-annya juga lebih halus 😑). Mata terpuaskan, loading-nya lebih cepet, dan kapasitasnya jauuuuhh lebih sedikit.

The Sims 4 sempet gue mainin via Steam. Tapi karena laptop gue bukan untuk gaming, terasa sangat berat. Plus, gue harus terkoneksi internet. Bisa sih ya katanya offline Steam, tapi gue nggak mudeng caranya. Katanya udah free download juga, tapi ya itulah gue nggak mudeng & laptop ini speknya kurang gahar. Jadi gue main The Sims 3 sekarang.

The Sims 3 Wikipedia

Pernah juga coba mainin yang Medieval. Tapi karena gameplay-nya sangat berbeda, jadi gue uninstall. Sempet juga main yang The Sims FreePlay & Mobile tapi menurut gue kurang memuaskan aja. Bangun rumahnya harus sepetak demi sepetak dari menyelesaikan objectives. Not worth my time...


2. Game Developer pake pixel: Kairosoft

Satu kata untuk game developer Kairosoft, KREATIF! Sumpah ya banyak banget karya game mereka ituuu... Akan capek kalo nyebutin satu-persatu, hahaha! List-nya bisa lo lihat di sini.

Mereka menghasilkan game dengan background story yang sangat beragam. Beberapa yang gue mainin berulang kali karena ganti device di antaranya, Bonbon Cakery - ini game jadi pembuat roti & kue gitu. Terus nanti bisa ikut kompetisi, ngumpulin bahan-bahan seasonal, meningkatkan kualitas produk kita dari bahan-bahan itu. Bisa naikin kemampuan chef-nya juga. 

Dream House Days yang ceritanya kita ini landlord apartemen gitu. Bukan sekedar melengkapi kamarnya biar levelnya naik & otomatis harga sewa naik, tapi juga bisa menjodohkan antar penghuni. Luv!

Kairosoft game developer Dream House Days

Ada juga yang gue suka. Namanya Cafetaria Nipponica. dari namanya aja udah ketahuan ya ini tentang makanan lagi, hahaha! Pernah juga main Grand Prix. Seru juga ini, jadi tim balapan mobil. 

Tapi dari semua game di atas adalah visualnya yang menurut gue sangat konsisten. Semua produk dari game developer asal Jepang ini adalah pixel art. Beda banget sama The Sims yang detail muka ekspresi. Justru gamenya Kairosoft ini blur kotak-kotak. Pernah nonton film Pac Man atau lihat huruf di Wreck It Ralph? Nah, kayak gitu. 


3. Game Developer Chimpanzee LLC

Chipanzee LLC iOS game developer

Kalau sama game developer yang ini gue baru penjajakan. Alias baru beberapa game-nya yang gue mainin sejak jadi iOS user. Karya Chimpanzee LLC belum masuk di Play Store. 

Alasan gue suka sama games mereka adalah sangat compact and sophisticated. Gameplay-nya sesimpel pencet ini, pencet itu untuk menaikkan level. Muter-muter aja di situ sampai bosen, hehehe. Gue mainnya di HP & nggak menghabiskan banyak baterai. Otomatis device nggak panas walau lama main. 

Dan satu lagi, mereka ADS FREE!!! Asli ini asyik. Game-nya gratis, grafisnya bagus, user interface-nya simpel. Main sekali mungkin lo akan bingung, tapi setelah 2 atau 3 kali lancar.

Berawal dari karya mereka Music Band Manager. Nama adalah keterangan background story-nya. Tuh kan mereka simpel sekaliii ... Jadi manajemen artis-artis gitu. Kapan mereka bikin lagu, lagunya enaknya di-collab sama siapa, bikin video klip kapan, rilis kapan, pantau tangga lagu, upgrade personal skills, sampai ada lho kayak penghargaan Grammy-nya gitu. 


Movie Star Chimpanzee LLC game developer

Selanjutnya gue main Music Star. Masih mirip-mirip ya. Tujuannya juga sama. Tapi point of view sedikit geser. Lo adalah musisinya, bukan manajemen artisnya. Tetap bebas pilih kerjasama sama artis siapa & lain-lain. 

Sempat main Hollywood Movie Star juga. Nah yang ini lo sebagai seorang aktor. Kirim-kirim portfolio, ikut casting, sampai akhirnya bisa menang penghargaan Emmy & Oscar yang ada setiap tahunnya. 

Masih ada beberapa game lainnya. Gue coba Influencer tapi masih belum ketemu nih cara jadi kayanya, huhu. Coba yang Homeless Trader juga menurut gue lama banget buat suksesnya. Nggak menenangkan dan not worth my time!!


Segitu dulu ya sharing gue. Nggak tahu juga kenapa pengen nulis ini, setelah terakhir 2023 akhir gue update blog, hehehe. Yang jelas waktu sehari-hari gue lebih banyak main game sekarang daripada menulis di blog. Agak aneh juga, awal berkarir selalu menulis lalu sekarang makin tipis niat untuk update. Bahkan untuk ubah theme, mengoptimasi blog jadi website, & beriklan pakai Google Ads. Kelihatan kan ya perubahan gaya penulisan gue dari post ke post? HAHAHA ... sungguh tidak konsisten.

Nulis satu post ini aja udah alhamdulillah... Thank you!

Read More

Monday, December 23, 2019

Thank You, Rintik Sedu

Rintik Sedu, apa atau siapa? Tidak penting wujudnya kayak gimana, tapi yang jelas gue sangat berterimakasih pada semesta karena mempertemukan gue dengan podcast ini di Spotify. Kemarin malam. 

Sayang...cuma ada 8 atau 10 episode gitu. Ketika habis, gue jadi kepo ke media sosialnya. Ketemu akun Twitternya. "Oh yang ini orangnya," kata gue dalam hati tadi siang di kantor. "Kelahiran 1998, buset masih muda banget!"

Agak nakal ya dengerin podcast di jam kantor, tapi mari memaafkan diri sendiri karena hari ini bos udah cuti. Artinya gue bisa kerja lebih konsentrasi walau sambil pakai earphone dengerin musik. Alih-alih dengerin Rapot, podcast kesayangan gue itu, gue malah pilih Rintik Sedu ini. Dengerin lagi episode terakhir yang judulnya "orang sedih". Persis mewakili perasaan gue akhir-akhir ini. Anjir bocah kelahiran '98 bisa-bisanya punya pemikiran dan merasuki jiwa gue, manusia superior yang hampir kepala 30. 

Dimulai dari "Saya nggak tau mau ngomong apa". Dalam hati kecil gue nyaut, "Wah bakal random nih!" Makin lama, makin mewakili perasaan gue. Dengar setiap kata dari monolognya yang dirangkai cerdas, berima (sesuai kesukaan gue). Hebat orang ini, kata-katanya bisa jadi quote banget, padahal ngomongnya ngawur!

"Orang sedih itu nggak perlu saran, nggak perlu, nggak perlu pelukan, nggak perlu denger lagu buat ngerasa aman. Orang sedih, orang sedih cuma butuh tau kalo dia nggak sendirian." Terima kasih sudah mewakili perasaan gue. Sosok yang dalam diri ini kayaknya lagi sedih, tapi terlalu gengsi buat ngaku. 

Lebih hebat lagi, suara Rintik Sedu ini mampu membius. Bikin ngelamun, berhasil membuat gue berhenti sejenak dari kerjaan gue tadi. Padahal semalem waktu hujan deres, episode "orang sedih" juga udah gue nikmatin dengan seksama sambil rebahan. Tapi ya itu, suaranya terlalu candu. Percaya nggak, sambil nulis blog ini gue sambil pake earphone dengerin episode yang sama? :) Sekarang udah masuk ke episode "balik bentar" nih.. 

Udah ah, gue mo mau game di HP lagi. Post blog kali ini sebenernya hanya salah satu upaya gue menjadi bahagia. Iya 'bahagia', sebuah kata yang kayaknya udah lama nggak gue rasain. You know, bahagia yang benar-benar merasa BAHAGIA. 

Mungkin dengan menulis blog, gue menemukan lagi bahagia. Karena berbagi hal yang membuat gue bahagia. Sebuah aktivitas yang sudah lama banget nggak gue lakukan. Semoga menulis ini terapi yang beneran bisa membuat gue menemukan lagi bahagia yang sesungguhnya. 

Cheers!
















Read More

Friday, December 28, 2018

Cerita di Klinik Kopi - Jogja

Mungkin tulisan gue ini sedikit berbeda dari sekian banyak cerita bahagia dari orang-orang yang ke Klinik Kopi di Jogja. Karena memang gue nggak happy-happy banget ke sana. Tapi biarlah ini jadi pengalaman pertama yang cukup jadi sekali saja tanpa ada kata 'will be back for sure' hahaha..

Klinik Kopi di Jogja bukannya nggak seru, hanya saja bukan untuk gue. Tempat ini mungkin lebih cocok buat orang yang sabar. Karena ngantrinya itu lho, wah ampun!!

Klinik Kopi di Jogja Yogyakarta
Fotonya dari Andam Suri A.
Pertama sampai di Klinik Kopi, asli, ramai banget yang antri! Gue dan temen-temen langsung dapet antrian nomor 24, gokil... padahal baru dateng dan itu masih jam 5 sore alias baru sejam dari waktu buka mereka!

Btw, antriannya itu dapet dengan lo samperin pintu rumahnya terus minta nomornya ke salah satu cowok yang ada di situ. Ntar lo akan dikasih kertas persegi panjang bernomor gitu.

Nothing much to do while you wait the queue. Di tempat ini hanya disediain tempat nunggu. Itu juga nggak luas. Ada teras lantai keramik yang beratap dan ada juga bagian yang nggak ada atapnya. Untung, si owner masih baik nih sediain colokan listrik yang banyak. Memahami sekali pengujungnya kebanyakan anak muda :D

Kalau datang ke sini lebih seru bareng temen yang bisa diajak seru-seruan deh. Biar nggak bosen, karena letaknya Klinik Kopi ini di area gang perumahan gitu. Nggak ada tukang jualan yang deket gitu..

Atau lo bisa bawa kartu, buku mewarnai, congklak, atau game board apa pun itu untuk membunuh waktu antrian di sini. 

Pengalaman gue, karena dapet antrian 24, jadinya milih keluar gang ke jalan besar Kaliurang buat cari makan. Pas banget udah jam 6an. 

Tempat makan deket Klinik Kopi Jogja
Pengalaman gue sih, ini solutif banget kalo kelaperan pas nunggu :)
Ternyata sepi juga tuh yang jualan di situ. Mungkin pas long weekend libur Natal. Paling dekat hanya warung sate kambing. Beruntung, satenya enak!

Sejam kemudian balik lagi, eh masih ramai juga tapi lebih sepiii.. seletingan dari yang masih pada nunggu , sepi karena sudah pada pulaaangg...! Dan antrian gue maju deh! Hanya 2 nomor tapi, jadi 22 dan gue nggak tahu pas sampe lagi di sini udah sampe nomor berapa, hahaha...

Antrian maju pun masih nunggu lagi sekitar setengah jam gitu. Ah tobaaaaattt...

Kekecewaan bertambah karena gue kurang survei. Ternyata hanya jual kopi hitam. KOPI HITAM, tok! 

Biji kopi hitam di Klinik Kopi di Jogja

Waduh sebagai orang yang nggak suka dan biasa minum kopi hitam, pengalaman coffee journey kali ini failed banget sih. Sedih dah pokoknya.

Tapi mungkin akan sangat menyenangkan buat lo yang suka dan bisa minum kopi hitam. Karena pilihannya banyak! And I am sure semuanya berasal dari kualitas terbaik kalau berdasarkan cerita dari owner-nya. 

Jujur, gue nggak impressed sama sekali dengan ceritanya. Gue nggak peduli sama kisah di balik menemukan varietas itu sih. 

Ada 4-5 jenis dan sejenis yang dari luar negeri gitu. Harga setiap jenis biji kopi yang udah disimpen dalam toples itu adalah Rp20.000, tapi beda buat yang satu dari luar negeri. Lebih mahal goceng kalo nggak salah..

Karena datengnya sama temen berenam sama gue, jadi kami pesen setiap jenis yang ada buat diseduh. Pertama biji langsung digiling di mesin yang ada di bar situ. WAH, parah wanginya menggoda banget! Ah jadi keinget lagi nih sama suasananya di sana, hahaha...

Jenis kopi hitam di Klinik Kopi Jogja

Giling biji kelar, bubuk langsung diseduh manual (kayaknya V60) sama satu-satunya barista di sini. Sambil baristanya ceritakan kisah di balik biji kopi dan after taste yang bakal lo dapet. Walau kami dapet seduhan yang sama, intepretasi rasa setelah menyesap mungkin saja berbeda. Nah, memang dasarnya gue bukanlah peminum kopi hitam jadi gue rasa semua sama aja. Jujur, pengalaman cupping coffee ini seru! 

Terlepas dari rasa kopi dan antrian, tempat ini hommie. Banyak foto yang cerita tentang petani dan tanaman kopi. Tapi nggak ada tuh tempat duduk kalau lo mau nongkrong cantik kayak di cafe. Kalo ambience-nya cenderung temaram, maka mohon maaflah ya jika hasil foto dari kamera HP di sini blur hahaha..

Suasana Klinik Kopi di Jogja

Mesin giling kopi di Klinik Kopi di JogjaKlinik Kopi Jogja

Kesimpulannya, cukup sekali dan tahu saja gue sama tempat ini, yang penting udah pernaaahhh... :D
Read More

Saturday, November 14, 2015

Let's Duel on Duel Otak!

Selamat main Duel Otak!
Sudah download Duel Otak? Gue sudah dong! Haha. Gue juga udah upgrade Duel Otak gue menjadi Premium! Di tanggalan yang hampir tua begini, gue rela isi pulsa tambahan biar dapat tanding dengan banyakan orang. Asli game di Android (ya bisa juga sih di iOS) bikin keranjingan ya!

Nih gue mau berbagi aja, gimana sih cara main Duel Otak?


Pertama lo harus bikin user name dulu. Mau nama asli, mau nama samaran, mau nama dicampur angka, BEBAS!


Read More

Sunday, September 13, 2015

Review : Stepping on The Flying Grass

Galeri Antara Putar Film Gratis!
“Hati-hati sama tahu,” kata bapak Agus Suryowidodo. Kalimat ini menurut gue paling ‘ngena’ dari seluruh dialog dalam film...karena lucu, khawatir sama tahunya.

Gue baru saja selesai menonton film gratis dan terbuka untuk umum di Galeri Antara di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Dalam rangkaian "70th HistoRI Masa Depan" yang turut memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ini, Galeri Antara menyajikan pemutaran film gratis dan yang terutama, pameran foto yang merupakan kerjasama arsip foto museum di Belanda.

Sebenarnya rencana ke Jakarta hari Sabtu-yang-pakai-kerja-banget-setengah-hari ini buat nonton salah satu festival film yang rutin tiap tahun diadakan, tapi berhubung salah baca jadwal, gue jadi melipir ke Galeri Antara di Pasar Baru. 

Balik lagi ke filmnya. Judul “Cita-citaku Setinggi Tanah” ini disutradarai Eugene Panji. Setelah baca sinopsisnya di posting-an temen di social media, gue pikir boleh juga lah film ini ditonton. Tokoh utamanya Agus, seorang anak yang masih sekolah dasar dan sedang dapat tugas sekolah untuk menceritakan cita-citanya. Bersama empat temannya, Sri (yang lebih ingin dipanggil Mey), Jono, dan Puji. Keempatnya dalam satu kelas yang sama, dapat tugas yang sama.
Read More

Wednesday, May 27, 2015

Tomorrowland : A Mind Blowing Movie

Sebelum terlupa, sebelum 'hot-hot'nya hilang. Jadi gue abis nonton Tomorrowland doooong! :D

Di mulai dari bagian yang paling gue tidak suka aja ya. Bagian di mana Gubernur Nix yang ternyata beneran diperankan oleh House dari series House saat menjelaskan apa-bagaimana-mengapa ada Tomorrowland dan gambaran tentang masa depan. 

Sudah, bagian situnya aja yang gue kurang dapat menyimak karena posisi duduk di baris C, ketinggian, layar kerendahan, bahasa Inggrisnya keribetan, dan yang duduk di baris depan gue kepalanya ketinggian. Oke alesan.
Read More

Tuesday, April 21, 2015

Bandung Heritage : Museum KAA

Sumber : google.com
Pekan ini lagi ramai bahas Konferensi Asia Afrika ya? 

Yaudah gue mau cerita sedikit mengenai kunjungan ke Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung. Di awali dengan menyengajakan (membuat sengaja) diri untuk mampir ke Museum KAA karena tiap kali ke Bandung takut nyasar kalau ke sini. Enggak tahu jalan, hehe.

Ditambah tempat ini menghadirkan tur museum virtual (selamat menikmati! :)) yang membuat makin ingin lihat langsung diorama Soekarno sedang pidato. Menurut gue, tur museum virtual semacam google street ini keren banget! Futuristik! Dan sudah sewajibnya diaplikasikan pada seluruh website museum di Indonesia.

Hari itu masih pagi banget. Sama SahabaDs #subgengpetualang (temen-temen SMA gue yang sering kumpul namanya SahabaDs. Dari 11 orang -anggaplahsegitu- ada beberapa yang memang doyan jalan. Jadilah sub geng. Gitu.) melintas di Braga. Jalan-jalan, enggak tahu gimana dipandu sama Andam pokoknya kami sampai aja di samping Gedung KAA. Bagian luarnya memang kayak yang di dalam buku sejarah gitu. Ada tiang-tiang bendera, ada teras dengan berpilar yang kayak di text book jaman SD yang benar-benar enggak ditambahin jarak trotoar, masih asli kayak dulu (kayaknya)!
Read More

Wednesday, December 17, 2014

Pseudoscience of Human Being

Um... filmnya bagus. Meski dibuat mikir kayak film Lucy, tapi ini sedikit lebih mudah dicerna. Mungkin karena dibalut romantika yang berbenturan dengan pemahaman. Pseudoscience.

Banyak yang bikin pusing sekaligus sadar, ini film refleksi diri banget. Memperjuangankan takdir, keberadaan Tuhan, bicara tentang cinta yang bentuknya luar biasa kasat mata, mempertanyakan kebahagiaan... terlalu kompleks untuk ditulis satu-satu. Mungkin yang barusan disebut ada satu, dua, atau bahkan tidak ada sama sekali dalam penafsiran lo semua. 

Lihat deh poster di sebelah ini, enggak banget ya? Tapi ternyata filmnya bagus, bagus sekali. 

Read More

Saturday, November 22, 2014

5 Songs That Make Me About You (Again)

Se-simple itu judul postingannya :)

Belum ada yang berubah, masih tentang yang berulang tahun 17 Juni kemarin. Masih tentang Gemini yang pernah ada, pernah indah pada waktu lalu, dan gue lupa bersyukur akan keberadaannya (juga kecewakan harapannya).

Semua momen yang terlewat bersama pernah ada lagunya. Kadang, kalau lagu-lagu berikut ini dimainkan di playlist Winamp, tanpa sengaja didendangkan di radio kesayangan, atau senandung yang tiba-tiba aja sambil ngapain gitu, ya... jadi inget lagi :')

Ini lima lagu yang buat gue jadi inget Gemini lagi. Gemini yang kemarin mampir di mimpi gue dan bilang mau nikah dua bulan lagi *memble*
Read More

Friday, August 29, 2014

My Mind, Body, and Soul Twisted : Lucy Review

Mumpung gue masih inget dikit jalan ceritanya. 

Gue baru aja kelar nonton Lucy. Entah deh, waktu diajakin nonton gue iya aja, film ini bukan yang sangat ingin gue tonton. Belum baca resensinya ataupun nonton trailernya di Youtube.

Kesan setelah menonton, "Kayak nonton Jimmy Neutron versi serius yang difilmin.".


Ada yang tahu Jimmy Neutron?
Itu lho anak yang jago bikin alat-alat. Kayak kendaraan piring terbang gitu. Ini anak semacam ilmuan gitu deh. Nah yang bikin gue inget sama Jimmy adalah scene perjalanan narkoba biru punya Lucy ke seluruh sarafnya.

Read More

Saturday, July 19, 2014

No Need For Revenge

Posternya ini sih
Akhirnya kekeluargaan makin terasa di departemen Event Promo kantor gue. Untuk kali pertama, gue dan teman-teman satu departemen melakukan aktivitas bersama. Di awali dengan nonton bareng yang juga memanfaatkan tiket gratis dari baru dibukanya Cinema XXI Tangcity Mall.

Meski ada Step Up yang baru nongol hari ini dan ada lima film lainnya yang tayang di Cinema XXI Tangcity Mall juga, Deliver Us From Evil yang akhirnya dipilih karena mepet buka puasa dan tepat dengan jam pulang kantor. Nah, kan dari judulnya aja sudah ketahuan ini bukan film komedi romantis atau porno (beda sih kalau film horornya Indonesia, sebagian jadi porno). 

Secara sisi cerita filmnya jelek. Asli. Tapi sebenernya film ini enggak bisa sepenuhnya dikatakan jelek sih. Karena ada beberapa pesan moral yang gue tangkap sebagai penonton awam.

Read More

Thursday, July 10, 2014

Blended

Abis nyoblos, temen gue ngajak nonton. Nah, nonton ini sekarang udah jadi kayak hobi baru. Entah deh. Sebenarnya enggak fanatik nonton sih. Kadang-kadang aja lihat film yang bagus di web 21cineplex atau blitzmegaplex, yang which is berpotensi bakalan beneran jadi ditonton itu hanya 30%. 

Tapi karena punya temen nonton macam Fikhri, Anti, Lala, dan beberapa yang lain anak-anak BSD-yang-ketemu-random-tapi-akhirnya-nonton, jadi nonton beneran. Kayak The Fault In Our Stars. Gue baca sih sinopsisnya di web bioskop, kayaknya enggak bagus-bagus amat, bukan genre yang gue suka dan tertarik nonton. Eh tapi di akhir film, gue malah niat nulis pendapat tentang film ini di blog.

Yang akhirnya gue simpulkan. Kalau mau tahu film itu bagus atau enggak, emang harus dengan cara ditonton. Karena film yang masih kategori karya seni ini hanya tentang rasa, bagus atau enggak itu relatif. Sinopsis atau IMDB enggak ngebantu gue yang buta rasa ini untuk akhirnya nonton. 

Gue melantur sekali, padahal bukan mau cerita ini. Prolog yang sampah, ya? Haha. Tapi mungkin minggu ini lo dapat memilih Blended sebagai film pas ditonton kalau mau tontonan ringan buat ketawa-ketawa lepas.

Tulisan mengenai Blended ini akan sangat subjektif sekali...
Read More

Saturday, June 28, 2014

The Fault In Our Stars

Seharusnya tulisan ini ditulis tepat setelah gue selesai nonton. Tapi sudah kepagian, karena gue nonton Sabtu jam 11 malam dan besoknya gue masuk karena mau pilih baju untuk pemotretan.

Jadi, karena Fikri ngajakin nonton The Fault In Our Stars ya oke deh, gue ikut aja. Ini kayaknya
film baru, karena pemutarannya hanya midnight. Blitz Teras Kota jadi pilihan gue, Fikri, dan Anti buat ‘mendayu-dayu’ di film ini.

Eh iya, kalau gue cerita film ini, jadinya gue spoiler ya? Haha. Tapi sudah seminggu juga sih, jadi yaudahlah ya. Ini pendapat gue tentang The Fault In Our Stars.
Read More

Saturday, January 25, 2014

The Croods, A Colourful Animation Film

Tahun 2013 menurut gue adalah tahunnya film animasi karena ada banyak banget yang gue tonton di tahun itu! Coba ada berapa yang gue tonton? 

Gue urutin dari yang paling membekas ya. Peringkat satu pastinya Despicable Me 2 ya, lalu Frozen, Cloudy with a chance of Meatball 2, Turbo, Planes, dan Monsters University. Tapi urutan itu berubah sekarang.

Read More

Thursday, December 26, 2013

Love You, Olaf!

Please guys, meet Olaf.
Menonton Frozen, film animasi bertemakan semangat Natal membawa kembali pesan positif tentang hidup. Terutama hidup gue. Hidup yang lagi sedikit messy karena habis kontrak bekerja di Lip6, kangen dapat gaji lagi, dan juga kondisi percintaan. Oke alasan yang terakhir paling ‘halah’ ya...

Hahaha.

Gue percaya semua film punya pesan moral. Tapi gue juga percaya enggak tiap orang bisa dapetin sama persis pesan moral pembuat film. Sama persis ya, mungkin pesan moral pihak pembuat film ada di part ke 13 tapi penonton malah nangkep pesan yang ‘dia bingits’ itu di part ke 27. Haha jauh.

Read More

Tuesday, December 17, 2013

Hatta is Our Real Hero!

Menonton film Soekarno yang digemparkan media massa memuat intrik antara pembuat film dengan pihak keluarga presiden pertama Indonesia itu memang menarik. Hari ini, Selasa 17 Desember, seperti kebiasaan sebelumnya, menonton film tanpa direncanakan. Beberapa informasi mengenai intrik ini sudah diketahui, ternyata sampai akhir film gue tidak menemukan bagian mana saja yang dipertentangkan. Tapi berpendapat bahwa ini adalah film sampah. 


Read More

Saturday, October 19, 2013

Yummy Yummy Yummy Cloudy Chance With a of Meatballs 2

Akhirnya nonton film lagi setelah, mungkin ada sebulan absen dari Blitzmegaplex Teraskota *lah berasa harus banget nonton, tapi ya emang nonton sih hiburan yang agak lumayan meski sekarang sudah tidak bisa lagi pakai credit card CIMB Niaga untuk gratisan. Karena ada masalah gitu deh, huhu :(

Flint Lockwood, I wish you're real
 Kemarin malam, setelah suntuk batal jalan sama sahabads, randomly gue memutuskan untuk nonton. Anything, yang jam putarnya paling dekat jam 9 malam. Sebenarnya ada 3 film yang menarik, adek gue bilang nonton Captain Phillip tapi ternyata jam 23.30, wassalam. Ada juga Gravity di jam yang sama, itu bagus, tapi kemaleman, mager juga. 

Akhirnya diputuskan nonton Cloudy Chance With a of Meatballs 2. Ini film sekuel dari judul yang sama. Gue dulu, duluuu bangets pengen nonton filmnya yang pertama di bioskop. Tapi apa daya, jaman dulu belum berduit, mau minta nyokap antara malu sama pasti nggak dikasih karena dianggap penghamburan duit, ya ya ya -_-" ... kesempatan nonton Cloudy Chance With a of Meatballs yang pertama didapat tanpa sengaja waktu nginap di hotel dalam rangka liputan Safari Ramadhan 2013.

Yakin setelah lihat film yang pertama lucu, berhasil bikin laper, dan harapan beneran terjadi di muka bumi yang fana ini *tsaillah...* ditambah lagi jam tayangnya di Blitz Teko yang paling dekat, akhirnya Cloudy Chance With a of Meatballs 2 keluar jadi pemenang yang akan ditonton. Untung adek gue gampangan mau temenin nonton apaan aja. Cuss...
Read More

Wednesday, August 28, 2013

And... Yes, We Must Have A Pie!

“We must have a pie. Stress cannot exist in the presence of a pie.” 
― David MametBoston Marriage



Old Fashioned Apple Pie with Ice Cream - Island Creamary
Berangkat dari link ini, gue mau cerita tentang pengalaman 'enak banget' yang jadi 'enak aja' yang gue alami sekitar..um...sebulan kemarin. Dan setelah gue baca-baca, halaman link website itu ada benarnya. Gue menggarisbawahi  dan setuju banget kalimat 'Rich but not too sweet'nya. 

Pertemuan kali pertama itu bikin gue yakin kalau tempat ini memang berkelas dan punya karakter untuk sebuah tempat makan eskrim.Island Creamery sebenarnya sudah sejak lama gue dengar namanya. Apalagi waktu adek gue cerita kalau doi habis mampir ke Island Creamery di Alam Sutera. Kala itu dia cerita dengan muka yang sumingrah. Biasanya, kalau adek gue yang cerita soal makanan, kepercayaan gue terhadap taste-nya masih sekitar 50-50. Beda dengan tante gue yang cerita soal makanan, taste doi memang sudah bagus, cocok sama selera gue. 
Read More

Monday, August 26, 2013

Serial Code Agent


Memang deh, sesuatu hal kadang memang punya dua sisi seperti mata uang. Kayak hal simpel yang gue pikir jadi ribet dengan analogi mata uang itu. Menurut gue, pemasangan TV kabel Indovision di rumah sejak sekitar dua tahun lalu bikin gue sering tambah mager dan jadi penonton setia channel AFC, National Geographic Channel, BBC Knowledge, AXN, Fox Crime, Fox, dan StarWorld. 
Kenapa hanya channel-channel luar negeri aja? Karena pertama semua itu yang termasuk free channel dari paket dasar si provider. Kedua TV nasional sudah makin basi dengan sinetronnya. Ketiga, Kompas TV dan NET. enggak masuk ke Indovision. Gue pemilih banget emang, sama kayak soal jodoh... *hoam*


Read More

Monday, July 29, 2013

Purwokerto!

Purwokerto mungkin bukan salah satu destinasi favorit untuk liburan. Tapi dari apa yang gue lihat langsung di kota yang enggak terlalu besar dan enggak terlalu kecil ini, industrinya hidup. Industri apaan? Makanannya broh!

Beneran deh, kotannya enggak gede-gede amat. Bahkah, mayoritas bangunannya itu arsitekturnya cenderung kuno menuju biasa aja. Tapi di antara rumah-rumah yang masih kental nuansa Londo itu, ada beberapa bangunan yang kalau pasang lampu nge-hip abis. Ya kayak kafe-kafe suasana Kemang (Jakarta Selatan) gitu dan beberapa hotel yang rata-rata bintang tiga.
Read More