Showing posts with label Jurnalistik. Show all posts
Showing posts with label Jurnalistik. Show all posts

Monday, November 25, 2013

Completely Retire

Temen gue, Gita Adinda yang oon dan sering skip, pernah bilang yang kira-kira, "Semakin lama lo berada di kerjaan lo yang sekarang, akan makin lama juga kesempatan baru terbuka untuk lo." Yes, akhirnya Gita bisa menelorkan untaian kata mutiara yang cerdas juga! Dengan ini gue nyatakan gue bangga jadi temennya *tepok pundak Gita* :')

Yuhuuuu....akhirnya setahun lengkap sudah gue di Liputan(4+2)dotcom. Setahun ini dirayakan dengan selesainya kontrak gue di sana. Rencana awal yang dimimpikan benaran dateng, gue selesai di sana.

Tulisan ini sudah beberapa kali coba ditulis, tapi akhirnya belum juga kelar-kelar. Maka hari ini gue berniat menyelesaikannya. Intinya, ya sudahlah ya mengenai tidak diperpanjangnya kontrak ini. I think everbody is happy. I am happy, coord (maybe very) happy, and my mom may be not fully happy. Ya sudahlah. 

Dibilang pasrah ya memang pasrah, tapi senang karena sudah terbebas juga. Alasannnya? DADT dude...

Saat ini, gue kembali mengingat ucapan teman, Norma Gesita yang akhirnya mendapat rejeki nomplok di tempatin di kanal olahraga Kompas.com sesuai dengan cita-cita dan passionnya. Kira-kira dia bilang, "Lo cari kerjaan yang mendekati mimpi lo jadi travel writer, jangan yang makin menjauhi." Kira-kira gitu ya Ma? hehe.

Gue menangkap, gue harus segera melamar pekerjaan yang bisa bawa gue semakin menjadi travel / food writer. Jangan malah berani ambil kerjaan yang berhubungan dengan kriminal politik (news), lebih-lebih ke teknologi atau infotaiment. Mulai saat ini gue berhenti kerja dari seorang jurnalis kriminal politik.

Not only resign, retire yang artinya benar-benar berhenti dari jurnalis politik kriminal.

This is a happy retirement and ... sebar CV
segera!!!

Read More

Sunday, July 7, 2013

Ripley's Believe It or Not Attraction in Genting Highland: Just Superb!!!


Wajib sambang
Jika bosan dengan permainan ala theme park yang disuguhkan di Genting Highland, Malaysia mungkin beberapa dari Anda berminat untuk menyaksikan museum yang terinspirasi dari program televisi, Ripley’s Believe It or Not.

Museum yang tergolong kecil dan sepi ini terletak (kalau nggak salah) lantai 3 bangunan Genting Resort. Pertemuan dengan resort ini sebetulnya tanpa disengaja. Karena termasuk pribadi yang cemen alias penakut sama permainan yang ada di Theme Park, pilihan menikmati berbagai atraksi dan toko-toko di mall Genting menjadi pilihan.

Ini juga karena pakai acara salah kostum. Namanya Genting Highland yang seharusnya sudah mampu diterjemahkan menjadi “tempat-hiburan-yang-berada-di-bukit-alias-hawanya-pasti-dingin” sewaktu meriset dan membuat itinerary. Dan benar saja, efeknya kedinginan waktu main. Akhirnya, masuk ke mall jadi solusi karena sudah terlanjur pakai baju tipis tanpa bawa slayer atau sweater.
Read More

Railway Transport. Yes, We Need To Move On!!!

Kartu E-Ticketing
Juli 2013 tinggal hitungan jari, artinya penggunaan e-ticketing Commuter Line kian dekat dengan penumpang kereta api lingkar Jabodetabek. Penetapan tarif baru yang 'dipangkas' hampir lebih dari setengahnya harga tiket yang sekarang, sungguh bikin pribadi terbengong-bengong, "Apa iya PT KAI Commuter Jabodetabek (PT KCJ) nantinya enggak akan bangkrut dengan tiket semurah ini?" aneh ya pertanyaannya.

Sedianya tarif baru yang disebut tarif progresif ini diefektifkan penggunaannya pada Juni 2013. Namun kebijakan PT KCJ ini malah harus mundur sebulan dengan alasan pihak tersebut ingin pengguna Commuter Line familiar dulu dengan sistem kartu elektronik, yang penggunaannya melewati gate khusus dan di'tapping' ke mesin.

Read More

Looking For A Crowd From Chaos

Itu barikadenya nggak kelihatan ya? :(
Akhirnya ngerasain bagaimana suasana meliput demo. Chaos-nya, crowd-nya...ahhh...
Yeap, gue yang pada awalnya sepulang dari Polda Metro Jaya sudah langsung mau

capcus naik kereta. Kelar motor gue titipkan di parkiran motor Karya Guna, gue langsung beli tiket.

Tapi bukan Leo namanya kalau nggak random. Akhirnya gue nyebrang rel kereta api dan jalan kaki melawan arus kendaraan yang dari Jalan Pejompongan dan Jalan Gatot Soebroto. Voila, sampailah gue di sisi kiri luar gedung DPR-MPR RI! Daaaann....
Read More

Liputan Banjir Pluit

Gue foto dari atas jalan tol lho ini, naik motor~
Meski intensitas hujan di Jakarta dan sekitarnya mulai menurun, tapi masa-masa suram untuk liputan banjir masih cukup mengena. Kali pertama liputan banjir itu sekitar bulan akhir Januari, kayaknya yang banjir besar di Pluit itu deh.

Banjir Pluit itu memang gila-gilaan! Menuju lokasi banjir aja tuh harus naik perahu ngapung ecek-ecek atau ikut rombongan Marinir yang tugas antar logistik, itu karena di RW 02 hingga seterusnya sampai ke Utara itu   airnya makin tinggi. Perbedaan kedua transportasi itu ya, yang satu gratis, satunya lagi bayar. Biasa pada cari momentum. Sewa perahu ecek-ecek itu bisa sampai Rp50.000 sekali jalan, padahal cuma dari gabus ditumpuk-tumpuk.

Read More

Monday, January 14, 2013

Breakfast, so break it fast!


Dalam perjalanan yang gue tentukan sendiri itinerary-(rencana perjalanan)nya, gue selalu punya beberapa catatan kecil soal pemilihan hostel alias tempat nginap ala backpacker. Salah satunya adalah tentang titik paling mula gue memulai penjelajahan suatu kota, sarapan!!!

Sarapan itu penting lho, asli. Entah gue emang udah tersugesti kata-kata dokter gizi yang sering siaran di radio atau televisi, menurut gue meninggalkan rumah tanpa sarapan is a big no, kecuali sangat sangat sangat terpaksa, kepepet, atau terlambat pol. Terserah, mau sarapan nasi atau roti tapi dasar orang Indonesia yang  hidup di tanah agraris bin maritim jadi kalau belum makan nasi itu rasanya kurang 'greng' beraktivitas seharian meski diminumin Extrajoss campur obat kuat Cialis.
Read More

Friday, November 19, 2010

Usul Mr. Selalu Bimbang Ya

Presiden memberikan usul ngasih hape ke ke para TKW. Tujuannya, biar TKW yang diperlakukan tidak baik oleh majikannya bisa langsung melapor ke Konsulat Jendral setempat, untuk kemudian ditindaklanjuti.

Menurut gue agak oon juga nih SBY. Ngasih solusi tapi kok ya gantung, nanggung.
  1. Dia lupa kali, kalo buat telponan harus pake pulsa. Lah ini bagaimana dah, TKW sering kali nggak digaji ama majikannya ampe berbulan-bulan, mau beli pulsa pake apa coba?
  2. Itu TKW yang kedengeran gaungnya pada disiksa majikannya aja kadang nggak dikasih makan, gimana nge-charge hapenya coba. Tempat tidur dan makan aja dianggep bukan hak mereka.
  3. Waktu untuk telponnya gimana ya? Terang-terangan atau sembunyi-sembunyi?
  4. Konsulat Jendral beneran udah siap dan akan sigap menangani ini nantinya?
  5. Eh gimana ya keadaan Konsulat Jendral yang ada di negara-negara mayoritas TKW kita?
  6. Mostly dari mereka dari daerah pelosok Indonesia. Mungkin butuh merangkai kata untuk bicara..eh kursus pake hape!
Mending ditarikkin aja dah tuh para TKW. Suruh balik ke sini. Kerja di sini.
Kerja apa ya tapi?
Jadi kuli bikin jembatan penghubung pulau Jawa dengan Papua keren tuh kayaknya! Hehe asal, gue juga gak tau enaknya pada disuruh ngapain :P
Read More

Sunday, July 4, 2010

Oleh-oleh dari Festival Indonesian Youth Conference

Gue mau latihan jadi jurnalis ah..
Wowaaaaa...!!! Siang tadi gue kebetulan punya waktu untuk dateng ke Festival Indonesian Youth Conference yang diadakan di Salihara, Pasar Minggu. Bermodalkan Rp50.000 aja gue bisa pilih lima dari seabrek pilihan topik seminar. Yang kebetulan menarik minat dan yang kira-kira sesuai dengan sok keber-bakat-an gue yaitu topik Pendidikan, Diplomasi, Politik, Media, dan Kewirausahaan.
Pertama sampe Salihara dengan bad habitnya gue, telat. Oke, akhirnya masuk ke seminar pertama di Galeri Salihara, topiknya Pendidikan dengan pembicara Arief Rahman (kepala sekolah Labschool dan rektor UIN Jakarta). Ini nih orang yang dulu mau gue wawancara jaman ngerjain tugas UAS Pak Ambang, susahnya dihubungin naujibilehhh...Dan berakhir pada batalnya wawancara doi. Oke cukup curcolnya. Gue kasih pendapat ya, gue rela deh kalo disuruh bayar Rp50.000 buat dengerin seminarnya dia doang. Sumpah. Keren, berbobot, dan dinamis banget materi seminarnya. Pembicara kedua adalah abangnya Dik Doank, namanya mas Beben. Inti seminar mereka yang gue dapet adalah setiap anak itu emang punya bakat dan minat masing-masing. Maka seharusnya dari tuh anak masih balita, orang tua udah mulai harus melihat bakat anak dari hobby si anak, kalau perlu dikasih tes minat dan bakat sejak kecil. Buat apa? Biar gedenya nggak salah pilih jurusan angkot,hehe nggak ding, maksudnya nggak bingung masuk IPA, IPS, atau Bahasa. Nggak buang-buang waktu kalo minatnya Hukum tapi di SMA jurusannya IPA. Dan ternyata dari 7 kecerdasan ala om Howard Gardner yang bukan saudaranya Jennifer Gardner, 7 kecerdasan itu masih dibagi-bagi lagi perbagiannya. Contohnya kecerdasan musik. Ada orang yang mampu main musik, tapi nggak bisa bikin lagu. Ada juga yang bisa bikin lagu, tapi nggak asik diliat kalo lagi perform. Jadi dalam sense of music seseorang bisa dibagi lagi menjadi kemampuan bermusik, menulis musik, kemampuan membaca not balok. Ya kira-kira gitu lah contohnya.

Masuk ke topik seminar kedua yang gue pilih, Diplomatik. Pembicaranya oye dah, Dino Patti Djallal, Jubir Presiden SBY di periode keduanya ini. Mr. Dino bercerita tentang Modernisatornya. Dan pembicara kedua yaitu Fariz Al Mehdawi, duta besar Pakistan untuk Indonesia. Pak Fariz yang katakan dalam pidato bahasa Inggrisnya yang sedapetnya gue nangkep translate-an ala gue, di Indonesia itu banyak yang bisa dieksplor, khususnya di daerah-daerah yang tidak menjadi sorotan dibanyak acara, seperti Bali, Surabaya, dan Medan. Daerah timur Indonesia juga banyak kok yang bisa dijadikan keunggulan bangsa ini. Gitu kali kira-kira, kalo salah ya maap bung! Dan hal yang menarik buat gue malah muncul dari mulut pak jubir presiden, Mr.Dino bilang, harusnya kasus Malaysia yang mengaku batik itu buatan mereka adalah kunci emas buat kita. Kenapa? Ternyata Mr. Dino bisa mikir out of the box (kalo nggak out of the box mana bisa dia jadi Jubir), sebenernya batik yang diakui Malaysia itu bisa jadi keunggulan buat kita. Biarkan aja mereka memerkenalkan batik, pake batik, nah kita yang bagian kasih tau ke orang-orang kalo itu produksi kita. Biarin foreign people pake batik yang justru akan jadi kebanggaan punya kita. Seperti Inggris yang punya bahasa Inggris, tapi dipake sama orang Amerika, Singapur, dan Australia. Inggris nggak marahkan bahasa mereka dipake segambreng orang? Nah kita harusnya juga nggak marah. Justru itu kesempatan batik kita dikenal oleh banyak orang.

Jeng jeng jeng...! Masuk ke topik ketiga yang ternyata puncak paling menyenangkan dari Festival IYC ini. Judul temanya Politik. Mas Aria Bima yang udah sering muncul di Democrazy, Metro Tv bilang politik saat ini udah mulai diisi oleh generasi muda. Kaum muda yang mulai peduli sama Indonesia dan tidak lagi mikir kalo politik itu menjemukan. Dipandu oleh moderator yang keren pula, Najwa Shihab, tema politik ini membuat gue ingin masuk partai politik. Partai politik yang sesuai dengan ideologi gue. Tapi emang ada yang sama persis ideologinya? Apa gue bikin partai baru nih?hahaha ngarang. Mas Aria dan Jerry bilang, parpol dimasa sekarang udah kehilangan esensi utama dari berpolitik. Harusnya tiap parpol benar-benar menjalankan visi-misi yang merupakan rangkuman dari semua aspirasi masyarakat dan perangkat parpol. Bukannya malah gontok-gontokan teman satu parpol waktu pemilihan calon legislatif tiap 5 taun. Kalo dalam satu organisasi aja udah saling sikut, bagaimana mewujudkan satu visi-misinya?Hei ingat, kami masih menunggu tindakanmu wahai kalian yang masyarakat pilih, sang representatif seluruh bangsa Indonesia.

Tema ke empat yang gue pilih adalah Media. Dilihat-lihat pembicaranya oke punya, Desi Anwar dan Armando (Jakarta Globe). Desi Anwar, wartawan senior, oh man! orang yang pernah wawancara Presiden Obama dan orang penting lainnya, sekarang ada di depan mata gue!Dan kami bisa sedekat ini, luar biasa!!! ekspresi lebay, tapi emang gue seneng ketemu wartawan keren macam Desi Anwar. Eh apa yang namanya "Anwar" keren ya? Desi Anwar-Rosihan Anwar? Tapi sayang sejuta sayang, materi tema Media ini sama kayak kuliah... Jadi, yaaa gitu deh. Kurang menarik buat gue. Lah wong yang dibahas perkembangan medianya doang... itu mah udah dapet dari Pak Ninok atau Gaha-su. Dan si Armando yang katanya wartawan Jakarta Globe itu terlihat agak ganjil. Penampilannya rapih, klimis, kayak orang kantoran lah... beda banget sama wartawan lapangan. Jadi bertanya-tanya, ini orang wartawan apaan, lapangan atau emang yang kongkow di kantor aja...Ragu berat!!!

Tema terakhirrrrr..."Kewirausahaan" Pembicaranya Sandiago Uno(bukan permainan UNO loh! Doi ini anaknya Mien Uno, pakar etika bersosial), Yoris Sebastian(Ini loh yang bikin acara "I like Monday"-nya Hardrock Cafe. Kreatif), dan Goris(enterpreneur muda asal Garut). Ternyata tema ini tidak banyak ngaruhnya buat gue. Tapi adalah yang ngaruhnya, gue jadi pengen kerja di daerah di timur Indonesia, eksplore daerah itu, memajukan wisata daerah itu, dan membuat perputaran uang di daerah tersebut sama hebohnya dengan di Jakarta.

Ya itu deh yang kira-kira gue dapet dari IYC... menyenangkan, memotivasi ,dan inspiratif. Tag line Festival IYC "Saatnya suara kamu di dengar"nya mana ya tapi?
Read More

Friday, June 11, 2010

Ceritanya Curhat

How you doing blog? Still waiting for me to update and update again?

Jadi gini ya blog, ceritanya gue mau curhat nih. Cerita seputar kehebohan tugas akhir semester gue di semester empat ini. Dari 10 matakuliah yang dibebankan kepada gue, tiga diantaranya berupa praktek. Sebutannya itu TAKE HOME TEST. Jadi, ujiannya dalam bentuk liputan dan paper gaul. Dikumpulin pas waktunya ujian.
Kebayang gimana kepepetnya waktu, kita jadi kalang kabut? Dalam waktu 14 hari udah harus jadi konsep, pinjem kamera HDV atau handycam (yang terbatas), siapa talentnya, dimana lokasi syutingnya, bikin surat ijin tugas lapangan dan bla bla bla... Masih untung buangetttt yang liputan-liputan kali ini dikerjainnya kelompok. Nggak tau masih hidup apa nggak deh kalo tugasnya jadi individu. *Sigh*
Nah yang sering banget jadi masalah kalo ada tugas liputan lapangan gini adalah faktor perijinan dan peminjaman alat!! Kadang surat tugas aja nggak cukup untuk meyakinkan pihak yang punya lokasi kalo rekaman kita itu tidak akan dipublikasikan! Lah emang cuma buat tugas kampus sih...ye!! Nggak beda sama birokrasi yang ribet, minjem alat di kampus sama ribetnya! Pertama harus tanya dulu sama AsLab, kamera ada yang kosong atau nggak. Et dah emang kali dasar kampus pelit kali yaa... Udah tau kan ya, mahasiswa yang butuh kamera itu nggak Ilkom doang, ada DKV juga suka minjem, mbok ya ditambah lagi gituuuu kameranya..

Udah ni kan... *ceritanya udah selesai liputan*
Nah ketemu lagi babak baru. Editing. Mau ngedit dari kaset mini DV harus ada yang namanya proses CAPTURE.
Apa itu capture? Capture adalah proses ngubah dari format pita kaset menjadi digital, supaya bisa liputannya diedit, ditambahin narasi, ditambahin lagu..
Nah yang ngenesnya dari proses ini adalah CAPTURE CUMA BISA DI KOMPUTER MACINTHOS atau di MACBOOKPRO. Kenapa? Karena harus pake kabel khusus yang memang cuma kompatibel sama MAC. Nah ini kabel yang menjadi hidup dan matinya pengguna kamera kampus.
Kalo windows? Bisa juga kok. Tapi kampus nggak punya kabel HDMI untuk windows tuh. Jadilah gue kalang kabut, cari pinjeman Mac buat capture. Mana MacBook Pro nggak banyak yang punya lagi.DUH! Gue sebenernya udah niat bener beli kabel HDMI, gue estimasikan harganya tidak lebih dari 70ribu, dan memang setelah gue cek ke toko sebelah, harganya malah cuma 50ribu. Tapiiiii...ada tapinya nih. Kedua ujungnya sama-sama HDMI, jadi nggak bisa masuk ke handycam atau slot DC IN HDV. Ugh!
Masih ada cara lain sih..*Apaan tuuu..?* Dengan membeli konektor HDMI dengan slot DC IN. Cuma "gantengnya" harga konektor itu 300ribu aja...Jeder!!! berasa dapet kuaci runtuh di siang bolong. Daaaaann...tambah gantengnya lagi, barangnya jarang ada. Ngek!

Jadi hidup gue sebagai mahasiswa Jurnal gimanaaaaaaa....? Betapa nikmatnya bisa capture di laptop Dell gue, tanpa harus merepotkan orang lain.HIKS!

Teman, kalo ada yang tau dimana beli kabel HDMI yang ujung buat handycam(istilahnya: 5 pin), please kasih tau sayaaaaa...
Gue masih ada dua semester lagi yang akan berkutat dengan liput liliput! ENJOY!!!

Read More