Sunday, November 25, 2018

Beda Prinsip, Alasan Pisah Orang-orang yang Juga Gue Takutin dalam Hubungan!


Akhirnya bagian yang sering jadi alasan pisah orang-orang dan juga gue takutin dari sebuah hubungan kejadian malam ini. Beda prinsip, tapi masih sayang.



I know, ini masih stage awal. Karena masih ada sayang, belum sampai bener-bener udah ilfeel. Tapi tetap, putus jadi kata yang terlontar dengan begitu ringkas, cepat, dan seakan menjadi solusi.

Berantem, nangis ("Ya senjatanya cewek kalo sakit hati apa lagi kalau bukan nangis" - Dewi Yull, waktu diwawancara pas cerai sama Om Sahetapy), terus susah tidur.

Kebersamaan di tahun-tahun mendatang udah jadi topik yang kami obrolin. Nggak sering sih, tapi ternyata juga nggak detail. Akhirnya malam ini jadi lebih detail. Terus adu pendapat.

Gini, gue pengennya A. Alhamdulillah, dia juga pengennya A. Tapi setelah obrolan malam ini, ternyata gue tetep A dan dia memperjelas jadi A.1. Huwow, beranak gitu kayak bullet and numbering! Kaget tapi berterimakasih banget sama Allah dan dia. Ada penjelasan diantarkan via suaranya malam ini. 

Adanya angka 1 ini, bener-bener nggak bisa gue ikutin. Karena prinsip gue A, titik. Sudah masuk ranah prinsip, bukan hanya sekedar pengen versi gue. Not tolerateable. 

Berusaha ikhlas, pasti. Siapa sih yang nggak pengen orang tersayangnya bahagia dengan mimpinya? Siapa ingin, gue pun. Gue nggak mau menghalangi dia mencapai semuanya. Terlebih 1 ini juga ada harapan hampir setiap orang tua. Kalau ditiadakan kan jadinya durhaka, ya? Ga boleh jadiin anak orang durhaka, karena orang yang begitu adalah kawan setan.

Gue sayang dia, beneran deh. Kalau nggak sayang, nggak pengen lama-lama sampe sekarang. Tapi gue nggak bisa kompromi tentang beda prinsip 1 ini.


Ada yang bilang, kalau sayang pasti bisa tekan ego dan toleransi kan? Bisa. Tapi nggak untuk hal ini, karena gue tetep mau logika berprinsip gue. Egois? Memang. Maafin, gue bukan orang yang berbaik hati dan berhasil menjaga hubungan. 

Apa pun yang akan terjadi, gue percaya jodoh nggak akan ke mana. Bisa aja Allah bilang "Kun Fayakun", maka nanti gue jadi bisa sangat berbahagia dengan kondisi beda prinsip A.1 itu. No one knows, but Allah.